Sore inia dia datang lagi, merembesi pakaian dan sekujur tubuhku, kemudian dia segera menyelimuti tubuhku dengan jubah dinginnya itu. Beberapa kali aku selalu mendapati keadaan seperti itu, keadaan saat aku terpapah sendiri menuntun tubuhku melewati percik demi percik darinya, merasakan setiap buihnya merembesi pori-pori tubuhku. Entah kenapa aku sangat menikmati itu. Hey, Apa aku sudah mengatakan bahwa aku sangat suka pada hujan yang datang di sore hari? Rasanya beberapa hari yang lalu aku pernah mengatakannya padamu.
Ya, ada semacam ketidakwarasan setiap kali dia datang, apalagi jika dia datang sebelum matahari kembali ke peraduannya. Ketidakwarasan itu kutemukan lewat bisikan lembut dari sahabatnya, guntur. Karena secara sadar atau tidak, si hujan itu selalu berhasil membawaku pada dunia yang asing namun terasa sejuk. Atau apalah istilah yang tepat untuk mengungkapkan kekaguman anehku pada hujan.
Seperti biasa, si guntur selalu datang lebih dulu darinya. Si guntur seperti pembawa berita kedatangan dan kepergiannya. Sejenak sebelum dia datang, si guntur akan berbisik terlebih dulu padaku perihal kedatangannya. Si guntur sangat baik, dia tidak pernah sungkan memberitahuku apa saja yang ingin ku ketahui dari hujan, apa saja yang akan ia bawa, bagaimana ia membagikan sebagian dari dirinya itu dengan percuma. Ya, melalui si guntur aku cukup tahu apa yang akan ia bawa sore ini.
Tapi entah kenapa untuk sore ini aku tidak terlalu merasakan kedatangannya, padahal si guntur sudah mengisyaratkan kedatangannya beberapa menit sebelumnya. Aku tidak mengerti. Aku mencoba mencari apa yang hilang darinya. Dia begitu berbeda dengan dirinya yang kemarin dan hari sebelum kemarin. Sore ini dia datang dengan sebuah kehangatan, satu hal yang sangat mustahil kutemukan dalam dirinya. Dia juga tidak mengenakan jubah kedinginannya saat dia pertama kali menyapaku. Ayolah, apa yang salah denganmu? Mana kedinginan yang selama ini kau bawa? Aku sangat menyukai kedinginanmu, bukankah aku pernah mengatakannya? Lalu kenapa sekarang kau tanggalkan jubahmu itu dan menggantinya dengan jubah yang baru?
Mungkin dia sudah bosan menyapaku. Dia mungkin ingin mencari teman lain yang bisa diajaknya berbincang tentang sesuatu yang baru. Baiklah, dia boleh pergi kalau memang itu maunya. Toh aku juga hanya seseorang yang secara tidak sengaja mendapatkan percikannya dan hanya sejenak merasakan aroma kedinginannya.
Pergilah.. Aku tidak akan menghalangi kepergianmu.
This entry was posted
on 11.37
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.