Drama di bawah kaki hujan
PostedAku melihat semuanya dengan amarah. Aku melihat semua tak ubahnya seperti hal-hal yang paling ku benci di atas langit dan bumi. Jika ini semua adalah campur tangan Tuhan atas takdirku, kenapa hal itu terasa begitu sangat menyakitkan? Mungkin Tuhan ingin mengingatkanku bahwa itu "takdir"? BUKANKAH ITU TAKDIR? Bukankah itu adalah hal yang harus diterima? Tuhan seolah ingin mengatakan padaku, "Takdir kamu memang harus selalu diabaikan, san".
Hari ini, dibawah kaki hujan, kau mendorongku dengan sedikit tenagamu, tapi ternyata tubuhku mampu kau dorong dengan kuat sampai-sampai aku terpelanting sangat jauh. Aku tersungkur di atas tanah yang bercampur kerikil dan batu-batu tajam. Aku harus meredam rasa sakit di seluruh tubuhku dan mencoba menopang dengan satu kaki yg sepertinya masih berfungsi.
Kemudian aku mencoba berdiri dengan seluruh kesakitanku, dan ku lihat kau menatapku biasa saja. Tidak ada sedikitpun raut kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan nampak di wajahmu. Hah! Aku juga tidak butuh semua itu. Aku tidak butuh belas kasihan dari siapapun atas kesakitanku. AKU TIDAK BUTUH. Biarkan aku berjalan dengan kekuatanku sendiri. Biarkan aku tutupi luka-luka ini dengan air mata keperihanku. Atau jika perlu, aku akan membiarkan tetesan-tetesan darah ini mengalir dari jemariku dan membiarkannya menetes bercampur dengan air hujan, sehingga aku tak perlu mengais darahku kembali.
Lalu sekarang apa?
Apa masih kurang semua kesakitanku untuk membayar seribu perasaanku? Jika semua kesakitanku ini masih kau anggap MURAH, apa perlu ku dorong tubuhku sendiri ke dalam jurang terjal agar kau mau menaikkan HARGA kesakitanku?
Jika mengenalmu adalah sebuah genderang peringatan kehancuranku, maka aku akan menyambutnya dengan penuh suka cita. Aku akan membiarkanmu melihat kehancuranku perlahan-lahan, karena bukankah itu yang kau inginkan? Kau tentu akan merasa tenang karena tidak akan ada lagi sosok yang akan membayangi langkahmu selama ini.
Nikmatilah kehancuranku. Nikmatilah...