KITALAH SANG PETARUNG  

Posted by: Langit Pelangi

Kamu…


Apa kamu tidak pernah merasa sesak dengan pertarungan ini? Keadaan dimana kita saling melempar keburukan kita masing-masing, keadaan dimana kita menganggap semuanya baik-baik saja, dan keadaan dimana kita saling berseteru dengan teori kita masing-masing. Apa kamu tidak pernah merasa sesak dengan keadaan semacam itu? Sejujurnya aku katakan, aku sangat lelah dengan semua ini, dengan pertarungan ini. Aku tidak pernah ingin menjadi pemenang. Aku tidak pernah ingin berada di puncak kegemilangan. Yang kuinginkan hanyalah menjadi seseorang yang selalu berada di dekatmu meskipun aku berdiri sebagai lawan.


Aku pernah berkeinginan untuk keluar saja dari permainan ini dan membiarkan petarung lain masuk ke arena. Menjadi pemain pengecut sekali saja tidak ada salahnya menurutku. Tapi rasanya hal itu tidak semudah kelihatannya. Membiarkanmu bermain sendiri tanpa teman membuatku tak bisa melepas kekhawatiran dan ketakutanku akan kehilanganmu. Sempat berpikir untuk mengikat tangan dan kakimu saja lalu membawamu pergi jauh dari permainan ini. Tapi melihatmu begitu kuat dan tangguh berdiri di tengah arena permainan ini sedikit demi sedikit kuurungkan niatku. Dan pada akhirnya aku kembali masuk ke dalam arena dan terus bertarung melawanmu.

Kamu sangat baik dan aku tak memungkiri itu. Itu sebabnya di tengah pertarungan kita, aku merasa tidak pantas berdiri di sampingmu atau melawanmu.  Setelah banyak luka yang ku toreh di hatimu kau justru memilih tetap bertahan dan menahan langkahku untuk tidak lari menjauh darimu. Kau selalu memaksaku untuk tidak memalingkan wajahku darimu, padahal kau bisa saja menikamku dan menjadi pemenang atau mencari petarung lain yang lebih tangguh dariku. Kau memang sempat membuatku terluka, tapi luka-lukaku sepenuhnya adalah kesalahan dan kebodohan yang kubuat sendiri. Aku tidak pandai memainkan pedang sehingga setiap serangan yang kulakukan selalu menoreh ke tubuhku sendiri.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Setelah begitu banyak luka yang kita toreh masing-masing apakah kamu masih tetap seperti itu? Ku mohon, jangan buat pandanganku bias terhadapmu lagi. Aku sudah cukup nyaman dengan posisi dan keadaanku sekarang. Jangan biarkan usaha kita membangun kembali puing-puing yang sudah hancur menjadi sia-sia. Kita akan saling membutuhkan meskipun saat kau tertatih lelah kau selalu menolak menyerap sari-sari kekuatan yang ku tawarkan. Kita akan selalu berada dalam jarak yang dapat digapai oleh tangan kita. Walaupun kamu berdiri sebagai lawanku sekalipun, kamu akan tetap menjadi lawan yang tangguh untuk kutaklukkan. Tetaplah berdiri disana, menunggu ku terguling atau membiarkanku mensejajarkan langkahku untuk sama-sama bertarung melawan petarung lain yang lebih tangguh.

Dan saat semua sudah kembali semula, aku akan kembali menerjemahkan kata demi kata dari setiap maksud yang kau utarakan. Bukan untuk memahamimu saja, tapi juga untuk  bercermin atas semua ucapan, tindakan dan pikiranku yang (menurutmu) salah. Dan aku pikir semuanya akan baik-baik saja jika aku saja yang mengalah dari awal.

This entry was posted on 00.08 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar

Posting Komentar